Monday, April 25, 2011

Legislator Perempuan Dituntut Lebih Optimal





MAKASSAR– Meski telah diatur, pemenuhan kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen belum terpenuhi. Karena itu, dari sejumlah legislator perempuan yang terpilih sebagai wakil rakyat, dituntut berperan lebih optimal.

Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Nuvida RAF mengatakan, kaum perempuan di parlemen harus mulai membangun kepercayaan publik bahwa mereka tidak kalah dengan kaum pria di panggung politik. Kepercayaan tersebut hanya dapat dibangun dengan menunjukkan kualitas mereka. Selain itu, legislator perempuan juga harus berperan aktif dalam setiap kebijakan publik. Dia menyarankan, perempuan harus berani tampil di depan publik, salah satunya dalam menuangkan ide-idenya di media massa.

“Mendatangi konstituennya dan meyakinkan bahwa perempuan bisa berbuat lebih baik.Menyampaikan bahwa hak perempuan akan diperjuangkan oleh perempuan,” kata alumni Slindres Women’s Studies Flinders University Australia Selatan ini, kemarin, berkaitan dengan peringatan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini. Dia menilai,hak perempuan dalam bidang politik hingga saat ini belum optimal.

Salah satu kendalanya, kultur masyarakat belum memberikan kepercayaan penuh kepada perempuan untuk tampil di berbagai bidang. Padahal, sistem kuota 30% untuk perempuan di parlemen sudah diatur dalam perundang- undangan. “Sebuah kesempatan untuk memberi peluang kepada kaum perempuan. Kalau tidak ada kuota sulit juga. Masalahnya, perempuan tidak dipilih oleh perempuan karena belum percaya.Ini yang harus diubah,”kata dosen Unhas yang konsen dalam kajian perempuan ini.

Dia mengungkapkan,kemajuan belum merata karena masih banyak perempuan yang belum merasakan hasil pembangunan seperti pada suku-suku terpencil. Bahkan, mereka lebih banyak menjadi korban. “Perempuan yang sudah maju dan berpendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk memajukan perempuan yang lain,utamanya yang dilegislatif dengan cara mengesahkan Undang- Undang yang pro perempuan,” ujarnya. Sementara itu,menyambut Hari Kartini, kaukus perempuan DPRD Sulsel kompak memakai busana warna ungu dalam sidang paripuna, kemarin.

Delapan legislator perempuan yang hadir semunya tampil dengan busana ungu,seperti Tenri Olle Yasin Limpo,Andi Mariattang, Andi Tenri Muntu, Devi Santi Erawati, dan Rusni Kasman. Tenri, Mariattang, dan Devi paling mencolok karena juga menggunakan sarung batik bermotif ungu. Juru bicara Fraksi Partai Demokrat Aerin Nizar bahkan mengawali pemandangan umum fraksinya dengan memberikan semangat kepada kaum perempuan untuk kembali mengenang perjuangan RA Kartini.

Aerin tampil dengan kaos ungu yang dibalut jas pakaian sipil lengkap (PSL). Menurut dia,saatnya kaum perempuan lebih gigih dalam belajar, serta mengambil peranan yang lebih menonjol dalam berbagai bidang. Usai sidang paripurna, mereka menyempatkan diri foto bersama dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Ketua DPRD Sulsel Muh Roem. Roem juga menyampaikan ucapan selamat Hari Kartini, dengan harapan perempuan Indonesia lebih mapan dalam memainkan peranan dalam berbangsa dan bernegara.

Dia mengakui, kapasitas perempuan dalam politik dari masa ke masa semakin mengalami perubahan. Ibu muda yang sudah memiliki tiga anak ini mengaku, dalam pengambilan keputusan, justru perempuan jauh lebih selektif dan detail memperhatikan segala sesuatunya. “Jumlah kami memang belum banyak bila dibandingkan laki-laki, tapi itu tidak menjadi kendala bagi kami untuk memperjuangkan kepentingan perempuan, ”jelasnya. Para anggota DPRD Makassar khususnya kalangan perempuan juga menyambut peringatan Hari Kartini dengan harapan bisa memaksimalkan peran perempuan.

Di DPRD Makassar, kaum perempuan diwakili tujuh anggota pada periode 2009-2014. Ke tujuh perempuan tersebut, di antaranya Nurmiyati, Kartini A Galung, Erna Amin, Shinta Molina, Sri Rahmi, Muhdina Muin, dan Rahmatika. Politikus Partai Hanura Nurmiati berharap tahun depan kursi politisi perempuan di DPRD Makassar bisa bertambah. Menurut dia, perempuan juga memiliki hak untuk berpolitik sama seperti laki-laki.

Hanya saja, jika sudah berada di panggung politik, perempuan tidak bisa melepas tanggung jawabnya untuk mengurus keluarga. “Sesibuk apa pun kita, keluarga tetap yang utama,”katanya. Hal senada juga diungkapkan oleh Kartini Galung. Politikus Partai Gerindra ini juga tergolong baru di dunia politik. Keberadaannya di DPRD Makassar untuk mewakili aspirasi masyarakat menjadikan pengalaman tersendiri baginya.

Bergelut di dunia politik bagi seorang perempuan dianggapnya bukan hal yang sangat sulit tetapi juga tidak mudah sebab banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi jika menyangkut masalah memperjuangkan hak rakyat. Menurut Sekretaris Komisi A Bidang Pemerintahan DPRD Makassar ini,di Sulsel ini sudah banyak perempuan yang sukses di dunia politik baik dari tingkat daerah maupun nasional. Hal itu menunjukkan bahwa perempuan Sulsel tidak ketinggalan.

Atas dasar itulah Kartini tidak pantang menyerah, sebaliknya terus berharap perempuan yang telah sukses didunia politik bisa memotivasi perempuan dari daerahnya. Di tempat terpisah, tokoh perempuan Sulsel,Prof Dr Masrurah Mokhtar memberikan makna tersendiri pada peringatan Hari Kartini.Menurut Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, sudah saatnya perempuan Indonesia lebih mandiri dan tidak selalu bergantung laki-laki atau suami.

Selain itu, melalui peringatan Hari Kartini ini,dia menyerukan agar perempuan tidak selalu minta dikasihani. “Saatnya sekarang perempuan mandiri, jangan selalu bergantung pada laki-laki atau suami, jangan selalu minta dikasihani. Saatnya sekarang berkompetisi dengan laki-laki dalam hak kepemimpinan,perpolitikan, dan pendidikan,” ujarnya. Terpisah,Kordinator Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulsel Zohra A Baso menilai Pemrov Sulsel belum konsisten membangun komitmen kepedulian terhadap peran perempuan di daerah ini.

Dia menyatakan,rendahnya kepedulian tersebut terlihat pada tingkat kekerasan terhadap perempuan, termasuk angka buta huruf yang masih tinggi.“Pada peringatan Hari Kartini ini, saya menuntut komitmen negara dalam hal ini pemerintah baik skala nasional dan Sulsel konsisten terkait aturan-atutan yang terkait keadilan dan kesetaraan gender, ”katanya. Selain Pemprov Sulsel,legislator di daerah ini juga harus mendorong kepeduliannya terhadap kaum perempuan yakni melalui kebijakan publik yang properempuan.
andi amriani/suwarny dammar/syamsu rizal/ant.
Semoga lebih bermakna peringatan hari kartini tahun ini….

Labels:

Rieke D Pitaloka: Peringati Hari Kartini Jangan Jadi Simbol


 SURABAYA – Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu identik dengan upacara di setiap sekolah maupun kantor instansi, dengan menonjolkan budaya tradisional, yakni menggunakan pakaian adat yang mengedepankan peran perempuan. Hal ini menjadi sorotan serius aktivis perempuan Rieke Diah Pitaloka.
Menurut Rieke, hari Kartini hendaknya tidak selalu mengedepankan simbol-simbol perempuan semata, namun harus lebih mengedepankan pemenuhan hak perempuan dan masyarakat secara umum yang selama ini terabaikan.
“Tidak jamannya lagi anak sekolah dipaksa memakai pakaian daerah pada peringatan hari Kartini, yang hanya mengedepankan simbol. Seharusnya nilai perjuangan kartini yang melawan kesewenang-wenangan penguasa harus lebih dikedepankan.” kata Rieke, yang juga anggota DPR RI.
Menurut Rieke, selama ini makna peringatan Kartini banyak disempitkan oleh pemerintah orde baru sehingga terjadi pemisahan persoalan perempuan dan rakyat lain. Padahal sesungguhnya bagi Kartini tidak bisa memisahkan perempuan dari rakyat. “Ada yang diderita perempuan sama dengan rakyat lain. Yang dia lawan kemiskianan dan kebodohan akibat kebijakan struktural yang tidak berpihak pada rakyat.” lanjut anggota DPR dari FPDIP.
Rieke menambahkan, gerakan perempuan tidak cukup hanya membangkitkan kesadaran perempuan, tapi harus menjadi kesadaran masif yang kemudian berubah menjadi gerakan bersama dan gerakan politik agar tidak memarginalkan kaum perempuan. “Kalau hal itu tidak terjadi, sampai kapanpun tidak akan ada perubahan nasib bagi perempuan.” Timpal Rieke yang menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa dipisahkan dari penegakan HAM.

Labels:

Peringatan Hari Kartini Tahun 2011

Bangkitkan Semangat Mencapai Target Pembangunan Millenium Indonesia adalah negara besar dengan jutaan potensi sumber daya manusia. Di Indonesia 49 persen dan 237,6 juta penduduk adalah perempuan. Oleh karena itu, jika perempuan Indonesia semakin cerdas maka akan menjadi penggerak utama dalam pembangunan.
Guna memastikan keterlibatan dan peran perempuan dalam setiap gerak pembangunan, pemerintah telah mengembangkan berbagai kebijakan untuk mendorong dan mengembangkan programprogram kerja nyata yang berkesinambungan, salah satunya melalui target pencapaian Millenium Development Coals (MDGs) di Indonesia.
Membumikan Semangat Kartini
Sosok perempuan di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah, banyak dari mereka yang menduduki posisi penting dan menjadi pengambil keputusan di negara ini. Jika kita telusuri sejarah panjang Indonesia, maka terdapat sederet nama perempuan yang telah berjasa bagi bangsa ini. Sebut saja. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu, dan H.R. Rasuna Said. Bahkan, jauh sebelum masa pun telah ada. Misalnya saja, Tribhuwana Wijayatunggadewi pemimpin kerajaan Majapahit.
Kartini, sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Kumpulan surat-suratnya yang dikumpulkan menjadi buku dan terkenal hingga saat ini adalah Door Duistermis lox Licht, yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu juga yang menjadi pendorong semangat para perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya.
Pola pikir dan cara pandang Kartini lambat laun telah membuka cakrawala baru bagi
perempuan Indonesia. Dimana, setiap perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan demi menyiapkan dirinya menjadi lebih baik agar dapat melaksanakan sebuah tugas besar kelak. Kartini telah membuka jalan bagi kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Memenuhi Target Pembangunan Millenium
Pada September 2000, para pemimpin dunia bertemu di New York mendeklarasikan "Tujuan Pembangunan Millenium" (Millenium Development Goals) yang terdiri dari delapan tujuan. Pertama, Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem. Kedua, mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Ketiga, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Keempat, menurunkan angka kematian anak. Kelima, meningkatkan kesehatan ibu hamil. Keenam, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Ketujuh, memastikan kelestarian lingkungan. Dan kedelapan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Dalam banyak hal, peme-ranan perempuan dalam pembangunan di Indonesia mencapai kemajuan pesat. Salah satu target yang tercantum di dalam-nya adalah kesetaraan perempuan yang mulai dimasukkan sejak tahun 2000. Mulai saat itu pula kesetaraan bagi kaum hawa dalam mengenyam pendidikan meningkat signifikan.
Peluang akses perempuan dan lelaki sudah makin seimbang. Rasio angka partisipasi mumi (APM) perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B berturut-turut sebesar 99,73 persen dan 101,99 persen pada 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99,85 persen. Angka partisipasi murni untuk pendidikan dasar mendekati 100 persen dan tingkat melek huruf penduduk melebihi 99,47 persen pada 2009.
Di sektor ketenagakerjaan dan peran politik perempuan terdapat pencapaian yang signifikan, meskipun masih ada beberapa tantangan yang mesti dituntaskan. Dalam tataran praktik, dari waktu ke waktu, dunia kerja formal semakin membuka peluang bagi kaum perempuan untuk turut me-masukinya. Kesempatan yang dimiliki perempuan Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan proprosi yang meningkat. Sekitar 14% perempuan telah menduduki jabatan tinggi dalam birokrasi pemerintahan.menjadi anggota parlemen, bupati, dan gubernur.
Beberapa fakta menunjukkan bahwa Indonesia sudah secara efektif menuju (on-track) pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015. Kebijakan-kebijakan negara pun diarahkan untuk sensitif dan memperhatikan kesetaraan gender. Kondisi itu berlangsung terutama sejak mulai ditetapkannya target MDGs.
Namun demikian, pemerintah berupaya agar peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan; perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan; dan peningkatan kapasitas kelembagaan pcngarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan tetap akan dikembangkan.
Dalam era kebebasan dalam naungan demokrasi saat ini, peluang partisipasi perempuan semakin besar. Kebangkitan perempuan tak bisa terwujud hanya dengan kebijakan pemerintah semata. Menjadi tugas kita bersama untuk menyadarkan seluruh komponen bangsa bahwa pemberdayaan perempuan dar perlindungan anak harus menjadi kepedulian bersama, demi terwujudnya kcsetaran gender dan hak-hak anak di berbagai bidang pembangunan.*
Srikandi Bike 2 Work Gowes Jakarta-Jepara
JAKARTA: Menyambut peringatan Hari Kartini 2011, organisasi Bike 2 Work Indonesia menyelenggarakan Srikandi Bike 2 Work Gowes Jakarta-Jepara, selama 8 hari (13-21 April).


Touring bersepeda yang diikuti oleh 10 orang perempuan berusia 25-40 tahun ini, akan melewati dua provinsi (Jawa Barat dan Jawa Tengah) dan 15 kota. Tema yang diusung dalam acara ini adalah Merayakan semangat Kartini menuju perempuan Indonesia mandiri dan bermartabat, untuk pertiwi dan generasi penerus bangsa.

"Pemerintah sangat mendukung kegiatan ini. Apalagi dalam misi memasyarakatkan bersepeda kepada warga di Indonesia,” kata James Tangkudung, Deputi Menteri Bidang Pembudayaan Olahraga, Kementerian Pemudan dan Olahraga, hari ini di kantor Kementerian Penberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP&PA) saat menerima tim bersepeda tersebut.

Sementara itu Sally Wardhani, Asisten Deputi Gender dan Pendidikan Kemen PP&PA, mengatakan apa yang dilakukan oleh kaum perempuan tersebut, merupakan sesuatu yang perlu mendapat perhatian, khususnya dalam mengajak masyarakat kembali mencintai bersepeda,.

Srikandi Bike 2 Work (B2W) tersebut, akan menempuh jarak sekitar 610 km dengan sepeda selama 6 hari nonstop. “Mereka akan bersepeda setiap hari dari pkl. 07.00-17.00 WIB, dengan berhenti selama 3 kali sehari untuk istirahat makan dan solat. Malam hari mereka beristirahan total untuk mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan esok harinya,” kata Toto Sugito, Ketua Umum B2W Indonesia.

Persiapan para srikandi yang terdiri dari ibu rumah tangga, karyawan, dan relawan, serta konselor kesehatan tersebut, dilakukan sejak dua bulan lalu.
“Kami melakukan latihan dengan touring bersepeda ke Bogor, ke Anyer, Karawang, dan terakhir ke Bandung untuk latihan jalan menanjak. Alhamdulillah, kami siap untuk menempuh rute Jakarta-Jepara ini,” kata Usi Iskandar, salah satu peserta. (ea)
Kontes Inspiring Women digelar sambut Hari Kartini
JAKARTA: Pengembang browser Internet Opera Software menggandeng operator seluler Telkomsel menggelar kontes foto Inspiring Women untuk memberikan penghargaan kepada perempuan-perempuan tangguh di Indonesia.
Lars Boilesen, Chief Executive Officer dari Opera Software, mengatakan program ini di dedikasikan sebagai bentuk apresiasi untuk perempuan-perempuan Indonesia. “Perempuan yang telah berjasa untuk keluarga, lingkungan dan masyarakat serta untuk memberikan dukungan dan semangat kepada semua perempuan Indonesia,” ujarnya hari ini.
Opera Software dengan didukung oleh Telkomsel di tahun ini akan memanfaatkan momentum Hari Kartini dengan lebih memfokuskan pada pemberian penghargaan kepada perempuan-perempuan tangguh di tengah masyarakat.
Adapun fokus apresiasi tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan kontes foto dengan tema Inspiring Women dengan menggunakan aplikasi Opera Mini yang terbuka untuk semua pelanggan Telkomsel.
Opera Software, lanjut Lars, melihat begitu banyak perempuan-perempuan masa kini yang semakin memiliki peran besar di masyarakat. Dan Telkomsel sebagai penyedia jasa seluler terbesar di Indonesia mendukung terselenggaranya program ini, untuk menjangkau seluruh masyarakat Indonesia berpartisipasi dan berbagi kisah mengenai peran perempuan di sekitar mereka.
Jajang Munajat, GM VAS & Device Customization Management dari Telkomsel, mengatakan perjuangan Kartini telah menginspirasi perempuan Indonesia untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. “Ini yang akan kami angkat untuk kembali melihat perempuan-perempuan tangguh disekitar kita dan berbagi kisah mereka,” tegasnya.
Program berlangsung dari tanggal 15 April sampai 8 Mei 2011. Untuk keterangan lebih detail mengenai program ini, kunjungi http://www.telkomselfotokontes.com
(gak)
Suara Guru

Redefinisi Kartini

Oleh: Maya Harsasi
DULU peringatan Hari Kartini menyita perhatian masyarakat. Anak-anak sekolah diwajibkan memakai pakaian nasional -khusus di Jawa biasanya kebaya dan jarik (kain). Begitu pula pegawai di berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. Lagu-lagu syahdu tentang perjuangan Kartini pun terdengar sangat akrab di telinga.

Lambat laun kemeriahan itu pun surut. Sampai di suatu titik di mana Hari Kartini hanya diperingati dengan upacara bendera. Itu pun hanya di instansi pemerintah. Namun, setelah tak terdengar gaungnya, dalam beberapa tahun belakangan ini peringatan Hari Kartini kembali marak. Tiba-tiba, perempuan dari berbagai profesi, memakai kebaya di hari itu. Dengan dalih meneladani perjuangan Kartini, siswa perempuan di beberapa daerah juga dianjurkan memakai kebaya. Berbagai perlombaan tentang ke-Kartini-an pun digelar untuk memeriahkan momen itu.

Pertanyaannya, inikah cara untuk mengajarkan kepahlawanan Kartini pada generasi muda? Sejarah mencatat, pahlawan nasional yang lahir 21 April 1879 ini dikenal sebagai perempuan yang memperjuangkan persamaan hak agar perempuan mendapat pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki. Ia yakin hanya melalui jalur pendidikan, kaumnya akan mampu berpikir lebih terbuka dan mempunyai wawasan yang memadai untuk menempuh kehidupan.

Namun, dalam surat-suratnya tak satu pun didapati konsep yang sedang ngetren pada saat itu seperti feodalisme, nasionalisme, atau sosialisme. Kartini tak menulis teori yang muluk-muluk. Tujuan perjuangan Kartini agar wanita memiliki wawasan yang cukup untuk melaksanakan kodratnya sebagai peletak dasar watak dan kepribadian generasi penerus. Jika wanita memiliki pendidikan yang cukup, ia akan mampu mel ahirkan generasi yang utuh dalam hal pengetahuan maupun budi pekerti. Sebaliknya, jika tidak berpendidikan, bagaimana mungkin ia akan mendidik generasi penerus dengan baik.

Adalah tugas kita sebagai pendidik untuk mulai berpikiran terbuka dalam menyikapi peringatan Hari Kartini. Utamanya, pengertian bahwa persamaan hak bagi kaum perempuan seperti yang dapat kita rasakan sekarang, bukanlah tujuan akhir dari perjuangan Kartini. Persamaan hak kaum perempuan hanyalah jembatan untuk mencapai misi yang mulia: membentuk generasi penerus yang lebih baik dari generasi kita (terdahulu).  Akhirnya, bolehlah Hari Kartini kita peringati sebagai perayaan secara formalitas pada 21 April, tetapi mengajarkan arti kepahlawan Kartini adalah tugas kita sepanjang hayat. Selamat Hari Kartini. (37)

-- Maya Harsasi SPd, guru SMKN 1 Tengaran, Kabupaten Semarang.

Labels: