Monday, April 25, 2011

Rieke D Pitaloka: Peringati Hari Kartini Jangan Jadi Simbol


 SURABAYA – Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu identik dengan upacara di setiap sekolah maupun kantor instansi, dengan menonjolkan budaya tradisional, yakni menggunakan pakaian adat yang mengedepankan peran perempuan. Hal ini menjadi sorotan serius aktivis perempuan Rieke Diah Pitaloka.
Menurut Rieke, hari Kartini hendaknya tidak selalu mengedepankan simbol-simbol perempuan semata, namun harus lebih mengedepankan pemenuhan hak perempuan dan masyarakat secara umum yang selama ini terabaikan.
“Tidak jamannya lagi anak sekolah dipaksa memakai pakaian daerah pada peringatan hari Kartini, yang hanya mengedepankan simbol. Seharusnya nilai perjuangan kartini yang melawan kesewenang-wenangan penguasa harus lebih dikedepankan.” kata Rieke, yang juga anggota DPR RI.
Menurut Rieke, selama ini makna peringatan Kartini banyak disempitkan oleh pemerintah orde baru sehingga terjadi pemisahan persoalan perempuan dan rakyat lain. Padahal sesungguhnya bagi Kartini tidak bisa memisahkan perempuan dari rakyat. “Ada yang diderita perempuan sama dengan rakyat lain. Yang dia lawan kemiskianan dan kebodohan akibat kebijakan struktural yang tidak berpihak pada rakyat.” lanjut anggota DPR dari FPDIP.
Rieke menambahkan, gerakan perempuan tidak cukup hanya membangkitkan kesadaran perempuan, tapi harus menjadi kesadaran masif yang kemudian berubah menjadi gerakan bersama dan gerakan politik agar tidak memarginalkan kaum perempuan. “Kalau hal itu tidak terjadi, sampai kapanpun tidak akan ada perubahan nasib bagi perempuan.” Timpal Rieke yang menegaskan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa dipisahkan dari penegakan HAM.

Labels: