Monday, April 25, 2011

Peringatan Hari Kartini Tahun 2011

Bangkitkan Semangat Mencapai Target Pembangunan Millenium Indonesia adalah negara besar dengan jutaan potensi sumber daya manusia. Di Indonesia 49 persen dan 237,6 juta penduduk adalah perempuan. Oleh karena itu, jika perempuan Indonesia semakin cerdas maka akan menjadi penggerak utama dalam pembangunan.
Guna memastikan keterlibatan dan peran perempuan dalam setiap gerak pembangunan, pemerintah telah mengembangkan berbagai kebijakan untuk mendorong dan mengembangkan programprogram kerja nyata yang berkesinambungan, salah satunya melalui target pencapaian Millenium Development Coals (MDGs) di Indonesia.
Membumikan Semangat Kartini
Sosok perempuan di Indonesia tidak dapat dipandang sebelah, banyak dari mereka yang menduduki posisi penting dan menjadi pengambil keputusan di negara ini. Jika kita telusuri sejarah panjang Indonesia, maka terdapat sederet nama perempuan yang telah berjasa bagi bangsa ini. Sebut saja. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu, dan H.R. Rasuna Said. Bahkan, jauh sebelum masa pun telah ada. Misalnya saja, Tribhuwana Wijayatunggadewi pemimpin kerajaan Majapahit.
Kartini, sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Kumpulan surat-suratnya yang dikumpulkan menjadi buku dan terkenal hingga saat ini adalah Door Duistermis lox Licht, yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu juga yang menjadi pendorong semangat para perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya.
Pola pikir dan cara pandang Kartini lambat laun telah membuka cakrawala baru bagi
perempuan Indonesia. Dimana, setiap perempuan berhak untuk mendapatkan pendidikan demi menyiapkan dirinya menjadi lebih baik agar dapat melaksanakan sebuah tugas besar kelak. Kartini telah membuka jalan bagi kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Memenuhi Target Pembangunan Millenium
Pada September 2000, para pemimpin dunia bertemu di New York mendeklarasikan "Tujuan Pembangunan Millenium" (Millenium Development Goals) yang terdiri dari delapan tujuan. Pertama, Memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem. Kedua, mewujudkan pendidikan dasar untuk semua. Ketiga, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Keempat, menurunkan angka kematian anak. Kelima, meningkatkan kesehatan ibu hamil. Keenam, memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya. Ketujuh, memastikan kelestarian lingkungan. Dan kedelapan mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Dalam banyak hal, peme-ranan perempuan dalam pembangunan di Indonesia mencapai kemajuan pesat. Salah satu target yang tercantum di dalam-nya adalah kesetaraan perempuan yang mulai dimasukkan sejak tahun 2000. Mulai saat itu pula kesetaraan bagi kaum hawa dalam mengenyam pendidikan meningkat signifikan.
Peluang akses perempuan dan lelaki sudah makin seimbang. Rasio angka partisipasi mumi (APM) perempuan terhadap laki-laki di SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B berturut-turut sebesar 99,73 persen dan 101,99 persen pada 2009, dan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun telah mencapai 99,85 persen. Angka partisipasi murni untuk pendidikan dasar mendekati 100 persen dan tingkat melek huruf penduduk melebihi 99,47 persen pada 2009.
Di sektor ketenagakerjaan dan peran politik perempuan terdapat pencapaian yang signifikan, meskipun masih ada beberapa tantangan yang mesti dituntaskan. Dalam tataran praktik, dari waktu ke waktu, dunia kerja formal semakin membuka peluang bagi kaum perempuan untuk turut me-masukinya. Kesempatan yang dimiliki perempuan Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan proprosi yang meningkat. Sekitar 14% perempuan telah menduduki jabatan tinggi dalam birokrasi pemerintahan.menjadi anggota parlemen, bupati, dan gubernur.
Beberapa fakta menunjukkan bahwa Indonesia sudah secara efektif menuju (on-track) pencapaian kesetaraan gender yang terkait dengan pendidikan pada tahun 2015. Kebijakan-kebijakan negara pun diarahkan untuk sensitif dan memperhatikan kesetaraan gender. Kondisi itu berlangsung terutama sejak mulai ditetapkannya target MDGs.
Namun demikian, pemerintah berupaya agar peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan; perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan; dan peningkatan kapasitas kelembagaan pcngarusutamaan gender dan pemberdayaan perempuan tetap akan dikembangkan.
Dalam era kebebasan dalam naungan demokrasi saat ini, peluang partisipasi perempuan semakin besar. Kebangkitan perempuan tak bisa terwujud hanya dengan kebijakan pemerintah semata. Menjadi tugas kita bersama untuk menyadarkan seluruh komponen bangsa bahwa pemberdayaan perempuan dar perlindungan anak harus menjadi kepedulian bersama, demi terwujudnya kcsetaran gender dan hak-hak anak di berbagai bidang pembangunan.*
Srikandi Bike 2 Work Gowes Jakarta-Jepara
JAKARTA: Menyambut peringatan Hari Kartini 2011, organisasi Bike 2 Work Indonesia menyelenggarakan Srikandi Bike 2 Work Gowes Jakarta-Jepara, selama 8 hari (13-21 April).


Touring bersepeda yang diikuti oleh 10 orang perempuan berusia 25-40 tahun ini, akan melewati dua provinsi (Jawa Barat dan Jawa Tengah) dan 15 kota. Tema yang diusung dalam acara ini adalah Merayakan semangat Kartini menuju perempuan Indonesia mandiri dan bermartabat, untuk pertiwi dan generasi penerus bangsa.

"Pemerintah sangat mendukung kegiatan ini. Apalagi dalam misi memasyarakatkan bersepeda kepada warga di Indonesia,” kata James Tangkudung, Deputi Menteri Bidang Pembudayaan Olahraga, Kementerian Pemudan dan Olahraga, hari ini di kantor Kementerian Penberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PP&PA) saat menerima tim bersepeda tersebut.

Sementara itu Sally Wardhani, Asisten Deputi Gender dan Pendidikan Kemen PP&PA, mengatakan apa yang dilakukan oleh kaum perempuan tersebut, merupakan sesuatu yang perlu mendapat perhatian, khususnya dalam mengajak masyarakat kembali mencintai bersepeda,.

Srikandi Bike 2 Work (B2W) tersebut, akan menempuh jarak sekitar 610 km dengan sepeda selama 6 hari nonstop. “Mereka akan bersepeda setiap hari dari pkl. 07.00-17.00 WIB, dengan berhenti selama 3 kali sehari untuk istirahat makan dan solat. Malam hari mereka beristirahan total untuk mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan esok harinya,” kata Toto Sugito, Ketua Umum B2W Indonesia.

Persiapan para srikandi yang terdiri dari ibu rumah tangga, karyawan, dan relawan, serta konselor kesehatan tersebut, dilakukan sejak dua bulan lalu.
“Kami melakukan latihan dengan touring bersepeda ke Bogor, ke Anyer, Karawang, dan terakhir ke Bandung untuk latihan jalan menanjak. Alhamdulillah, kami siap untuk menempuh rute Jakarta-Jepara ini,” kata Usi Iskandar, salah satu peserta. (ea)
Kontes Inspiring Women digelar sambut Hari Kartini
JAKARTA: Pengembang browser Internet Opera Software menggandeng operator seluler Telkomsel menggelar kontes foto Inspiring Women untuk memberikan penghargaan kepada perempuan-perempuan tangguh di Indonesia.
Lars Boilesen, Chief Executive Officer dari Opera Software, mengatakan program ini di dedikasikan sebagai bentuk apresiasi untuk perempuan-perempuan Indonesia. “Perempuan yang telah berjasa untuk keluarga, lingkungan dan masyarakat serta untuk memberikan dukungan dan semangat kepada semua perempuan Indonesia,” ujarnya hari ini.
Opera Software dengan didukung oleh Telkomsel di tahun ini akan memanfaatkan momentum Hari Kartini dengan lebih memfokuskan pada pemberian penghargaan kepada perempuan-perempuan tangguh di tengah masyarakat.
Adapun fokus apresiasi tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan kontes foto dengan tema Inspiring Women dengan menggunakan aplikasi Opera Mini yang terbuka untuk semua pelanggan Telkomsel.
Opera Software, lanjut Lars, melihat begitu banyak perempuan-perempuan masa kini yang semakin memiliki peran besar di masyarakat. Dan Telkomsel sebagai penyedia jasa seluler terbesar di Indonesia mendukung terselenggaranya program ini, untuk menjangkau seluruh masyarakat Indonesia berpartisipasi dan berbagi kisah mengenai peran perempuan di sekitar mereka.
Jajang Munajat, GM VAS & Device Customization Management dari Telkomsel, mengatakan perjuangan Kartini telah menginspirasi perempuan Indonesia untuk menjadi pribadi yang kuat dan tangguh. “Ini yang akan kami angkat untuk kembali melihat perempuan-perempuan tangguh disekitar kita dan berbagi kisah mereka,” tegasnya.
Program berlangsung dari tanggal 15 April sampai 8 Mei 2011. Untuk keterangan lebih detail mengenai program ini, kunjungi http://www.telkomselfotokontes.com
(gak)
Suara Guru

Redefinisi Kartini

Oleh: Maya Harsasi
DULU peringatan Hari Kartini menyita perhatian masyarakat. Anak-anak sekolah diwajibkan memakai pakaian nasional -khusus di Jawa biasanya kebaya dan jarik (kain). Begitu pula pegawai di berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta. Lagu-lagu syahdu tentang perjuangan Kartini pun terdengar sangat akrab di telinga.

Lambat laun kemeriahan itu pun surut. Sampai di suatu titik di mana Hari Kartini hanya diperingati dengan upacara bendera. Itu pun hanya di instansi pemerintah. Namun, setelah tak terdengar gaungnya, dalam beberapa tahun belakangan ini peringatan Hari Kartini kembali marak. Tiba-tiba, perempuan dari berbagai profesi, memakai kebaya di hari itu. Dengan dalih meneladani perjuangan Kartini, siswa perempuan di beberapa daerah juga dianjurkan memakai kebaya. Berbagai perlombaan tentang ke-Kartini-an pun digelar untuk memeriahkan momen itu.

Pertanyaannya, inikah cara untuk mengajarkan kepahlawanan Kartini pada generasi muda? Sejarah mencatat, pahlawan nasional yang lahir 21 April 1879 ini dikenal sebagai perempuan yang memperjuangkan persamaan hak agar perempuan mendapat pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki. Ia yakin hanya melalui jalur pendidikan, kaumnya akan mampu berpikir lebih terbuka dan mempunyai wawasan yang memadai untuk menempuh kehidupan.

Namun, dalam surat-suratnya tak satu pun didapati konsep yang sedang ngetren pada saat itu seperti feodalisme, nasionalisme, atau sosialisme. Kartini tak menulis teori yang muluk-muluk. Tujuan perjuangan Kartini agar wanita memiliki wawasan yang cukup untuk melaksanakan kodratnya sebagai peletak dasar watak dan kepribadian generasi penerus. Jika wanita memiliki pendidikan yang cukup, ia akan mampu mel ahirkan generasi yang utuh dalam hal pengetahuan maupun budi pekerti. Sebaliknya, jika tidak berpendidikan, bagaimana mungkin ia akan mendidik generasi penerus dengan baik.

Adalah tugas kita sebagai pendidik untuk mulai berpikiran terbuka dalam menyikapi peringatan Hari Kartini. Utamanya, pengertian bahwa persamaan hak bagi kaum perempuan seperti yang dapat kita rasakan sekarang, bukanlah tujuan akhir dari perjuangan Kartini. Persamaan hak kaum perempuan hanyalah jembatan untuk mencapai misi yang mulia: membentuk generasi penerus yang lebih baik dari generasi kita (terdahulu).  Akhirnya, bolehlah Hari Kartini kita peringati sebagai perayaan secara formalitas pada 21 April, tetapi mengajarkan arti kepahlawan Kartini adalah tugas kita sepanjang hayat. Selamat Hari Kartini. (37)

-- Maya Harsasi SPd, guru SMKN 1 Tengaran, Kabupaten Semarang.

Labels: