Monday, February 11, 2013

Angka Kematian Ibu di Kalbar Masih Tinggi


Prov Kalbar_Ketapang menjadi daerah dengan angka kematian ibu tertinggi hingga 2012. Kepala bidang Kesga, Gizi, PSM Dinas Kesehatan Prov Kalimantan Barat, Berli Hamdani mengungkapkan terdapat 20 kasus di kabupaten tersebut.

“Angka kematian ibu di Kalimantan Barat hingga 2012 sebanyak 143 kasus per seratus ribu kelahiran hidup. Angka ini cukup tinggi, dibanding angka nasional,” ungkap Berli dalam loka karya peningkatan tumbuh kembang Anak mewujudkan Provinsi kalbar Layak Anak yang diselenggarakan Word Vision dan Wahana Visi Indonesia, rabu (30/1) di aula bappeda kalbar.

Setelah ketapang, angka kematian ibu terbanyak berada di kabupaten sambas dan Sanggau yakni masing-masing 17 kasus, Kubu raya 16 kasus, kota Pontianak 12 kasus, Sintang 9 kasus, Sekadau 8 kasus, bengkayang, kabupaten Pontianak,Melawi dan Singkawang masing-masing 7 Kasus, serta Kapuas Hulu 6 Kasus, Kayong Utara 5 kasus dan Landak juga 5 kasus.

Penyebab kematian terbanyak adalah pendarahan yakni 38,46 persen, lain-lain 32,17 persen, hipertensi dalam kahamilan (HDK) 26,17 persen dan infeksi 4,20 persen.

Berli juga mengungkapkan jumlah kasus kematian neonatal hingga Desember 2012 juga tinggi. Kematian neonatal adalah kematian bayi yang lahir hidup dalam rentang waktu 28 hari sejak kelahiran. Terjadi 507 kasus kematian tersebut. Paling banyak terjadi di sambas yakni 82 kasus. Diikuti kota pontianak77 kasus, ketapang 66 kasus, sanggau 59 kasus ,Sintang 38 kasus, Sekadau 32 kasus, Kapuas Hulu 30 kasus, Kabupaten Pontianak 26 kasus, kubu raya 24 kasus, Landak 21 kasus, melawi 19 kasus dan terendah 11 kasus. Penyebab kematian terbanyak adalah asfiksia sebesar 38,30 persen dan bayi berat lahir rendah sebanyak 29,59 persen. Sisanya dikarenakan kelahiran congenital, sepsi, ikterus dan lainnya.

“Data kematian Neonatal ini kami kumpulkan dari seluruh rumah sakitdi kalbar. Ini menunjukan semua potensi yang dapat meimbulkan kematian di masyarakat sudah di bawa kerumah sakit,”ungkap Berli.

Angka kematian bayi dari umur 29 hari hingga 11 bulan di kalabar mencapai 66 kasus. Kasus paling banyak terjadi di Kapuas Hulu yakni 28 kasus, Sambas 16 Kasus, Sanggau 6 kasus, Kubu Raya 5 kasus, kayong Utara dan Sekadau masing-masing 2 kasus, dan Kota Pontianak, Melawi dan Ketapang masing-masing 1 kasus. “hanya Singkawang, Bengkayang dan Sintangyang tidak ada kasus kematian bayi tersebut,”katanya.
Sedangkan angka kematian balita, lanjut Berli, paling banyak terjadi di Sambas, yakni 8 kasus, Kapuas Hulu 4 kasus, Kubu Raya dan kayong Utara masing-masing 3 kasus, Melawi dan Ketapang masing-masng 2 kasus, serta Sekadau, Bengkayang, Sintang, Sanggau, Kabupaten Pontianak dan Landak masing-masing 1 kasus. “dua daerah yang nihil kejadian yakni Singkawang dan Kota Pontianak,”timpalnya.

Ia menambahka saat ini tidak semua petugas kesehatan di Kalbar terlatih untuk kasus-kasus neonatal. “selaian itu, juga tergantung dari aktivitas sang ibu yang membawa bayi ke posyandu atau tempat pemeriksaan kesehatan,”katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk menurunka angka kematian ibu dan kematian bayi. Diantaranya setiap persalinan ditolong tenaga kesehatan terampil. Setiap komplikasi obstetric dan neonatal ditangani secara adekuat, dan setiap wanita usaia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran.

“upaya dilakukan dengan strategi meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir ditingkat dasr dan rujukan.

Upaya lainnya yakni membangun kemitraan yang efektif, mendorong pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat, serta saling meningkatkan system surveilans, “ungkapnya.

Regional Operation Manager kalbar Wahana Visi Indonesia, Untung Sidupa mengatakan saat ini pihaknya membantu pememrita dalam menurunkan angka kematian ibu dan anak, serta persoalan social lainnya.

Ada tujuh wilayah layanan yakni Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Bengkayang Sambas, Landak, Sekadau dan Kubu Raya.

Wilayah layanan itu tersebutdengan kantor operasional yang terdiri atas kecamatan dan desa. Setiap desa atau kecamatan memiliki focus pengembangan yang sama. Focus pengembangan ini berdasarkan hasil analisa social dan penggalian masalah yang dilakukan secara partipatis bersama masyarakat, sehingga intervennsni yang dilakukan juga disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“focus yakni pengembanganpendidikan, kesehatan dan ekonomi. Tetapi berbeda dari sisi konteksdan kedalamannya.

Sumber: media lokal Pontianak Post, kamis 31 januari 2013

Labels: